Maulid Bersama 18 Pesantren

Khotmil Qur’an dan Bersholawat Bersama 18 Pesantren

*”Meraih Syafaat Dengan Mencintai Rosulullaah SAW”*

*Ust. Bobby Herwibowo* Founder Azkar Kauny

*Senin Ba’da Maghrib, 31 Desember 2018*

 

_Oleh : Three (trihandajanibagus@gmail.com)_

 

Bismillaahirrohmanirrohiim,

Diawali dengan Qhatmil Qur’an jama’i dan Sholawat Barzanzhi Nabi Muhammad SAW

dilanjutka tauziah oleh Ust Bobby Herwibowo:

Banyak kisah nyata yang meyakinkan kita akan kebenaran agama ini, salah satunya berasal dari lokasi bencana tsunami yang ikut menerjang sebuah acara gathering tanggal 22 Desember 2018 yang lalu. Pada waktu itu ada sebuah keluarga berasal dari Bekasi (peserta gathering), pada beberapa saat sebelum kejadian bencana, mereka tersadar belum melaksanakan sholat isya. Lalu sekeluarga inipun meninggalkan area di sekitar panggung musik grup Seventeen dan melaksanakan sholat berjamaah di sebuah mushola kecil tepat di bibir pantai. Ba’da sholat mereka mendengar suara yang amat bergemuruh, ternyata itu adalah suara gelombang tsunami setinggi sekitar 7 meter. Sekeluarga ini selamat, tak setetespun air masuk ke mushola kecil di bibir pantai itu, ma syaa Alloh ! Maka inilah pentingnya memilih jalan kebenaran. Mungkin ceritanya akan lain jika mereka tetap berada di depan panggung. Di saat makin banyak yang bermaksiat, terutama di malam pergantian tahun seperti ini, adalah tepat untuk memilih datang ke masjid. Memperbanyak tilawah Qur’an, dzikir dan bersholawat, apalagi bersama-sama dengan anak-anak perwakilan dari 18 pesantren, maka in syaa Alloh Rohmat Alloh akan turun kepada kita semua, aamiin.

 

Kisah lain tentang anak-anak pesantren penghafal Qur’an ini juga terjadi ketika bencana gempa baru-baru ini di Lombok. Di Kecamatan Gunung Sari, Lombok Barat, ada sebuah majelis bernama majelis An-Nawawi yang sekarang menjadi majelis ma’had Askar Kauny An-Nawawi Lombok. Berkali-kali diguncang gempa, majelis An-Nawawi sedikitpun tidak mengalami retak pada bangunannya, padahal disekitarnya tidak ada satupun bangunan yang masih berdiri, semua hancur rata dengan tanah. Ketika ditanyakan mengenai hal ini, jawabannya adalah “Di sini ada 600 anak yang setiap harinya, dari mulai magrib-isya, mereka menghafal Qur’an. Dilanjutkan dari mulai ba’da sholat isya – sekitar jam 2 malam, orang – orang dewasa/maha santri, belajar membaca Qur’an (iqro)”. Gempabumi seolah-olah punya mata, semua bangunan dihantam, tapi ketika bertemu dengan majelis Al-Qur’an, ia berbelok, ma syaa Alloh !.

 

Di Lombok Utara, ada sebuah posko (sebuah rumah) yang masih bertahan dari terjangan gempa,  ternyata di posko itu, selama ini (dari sejak sebelum terjadi bencana) setiap harinya dijadikan sebagai TPA. 150 santri, anak-anak hingga dewasa belajar Al-Qur’an di rumah itu pada setiap harinya.  Lalu ketika suatu malam terjadi lagi gempa 7 SR. Listrik mati. Banyak batu bata (dari bangunan lain) yang berhamburan, tapi di posko itu strukturnya sama sekali tidak goyah. Ketika itu ternyata tidak ada satupun santri yang terluka, tidak secuil gores luka pun. Hebatnya para santri tidak ada satupun yang kapok, besoknya sehabis magrib mereka datang lagi sambil bertanya “kakek, malam ini kita mengaji lagi _kan_” ? Ketika ditanyakan kepada mereka apakah mereka tidak takut datang lagi ke posko itu, maka jawaban mereka amat membuat kita merinding “Kek, kami tidak takut, karena tadi malam ketika gempa hebat terjadi, lampu mati dan semua orang berhamburan, tiba-tiba ada manusia yang tinggi, putih, besar sekali, jenggotnya putih panjang, ia memeluk melindungi kami sambil berkata “jangan takut, jangan takut, kalian akan selamat”. Ma syaa Alloh !. Itulah syafaat Al-Quran. Tidak usah bicara hari kiamat dan akhirat, syafaat Al-Qur’an sudah bisa dirasakan di dunia. Maka, malam ini, sementara banyak manusia bermaksiat, berfoya-foya, berhura-hura, kita datang ke masjid. Rajin-rajinlah membaca Al-Quran setiap hari, paksakan diri untuk membaca Al-Qur’an karena Al-Quran adalah syafaat bagi kita fii dunya wal akhiroh, aamiin.

 

Rosulullaah bersabda “manusia yang paling akrab dengan ku nanti di hari kiamat adalah orang yang paling banyak bersholawat kepada ku”. Maka perbanyaklah sholawat kepada Rosulullaah. Paksa diri untuk banyak bersholawat, sehari minimal 100, 200 atau 1000 kali. Di daerah Menteng-Jakarta Pusat, ada seorang ibu yang pada suatu malam sulit untuk tidur, bukan karena sedang punya banyak masalah, tapi malam itu ada kerinduan yang dahsyat di hatinya kepada baginda Rosulullaah.  Ia terus saja bersholawat “Allohumma sholi a’la Muhammad”. Paginya ia minta kepada suaminya untuk bisa berangkat haji lagi. Singkat cerita akhirnya ibu ini berangkat berhaji. Di dalam pesawat dan selama di bis menuju ke Madinnah ia terus saja bersholawat. Sesampai di Madinnah ia bergegas ke Masjid Nabawi. Ketika pintu masjid dibuka jam 3 pagi, semua jamaah seketika berhamburan berlari memasuki masjid, kecuali ibu ini. Ia hanya berjalan sambil mengucapkan doa masuk masjid dan terus bersholawat. Lalu apa yang terjadi ? Ibu ini mengalami vision atau di dalam ilmu tasawuf disebut dengan kasyaf. Ibu ini merasa bahwa ia memasuki Masjid Nabawi pada zaman Rosulullaah dulu. Tiang-tiang berupa pelepah kurma, karpetnya berupa pasir. Lalu ia sholat sunnah. Begitu ia mengucapkan salam tiba-tiba ia melihat di hadapnnya ada manusia berkerumun, mengerumuni seorang manusia yang gagah, tampan rupawan dan bercahaya. Lalu ibu ini bertanya kepada wanita di sebelahnya “Siapakah orang itu?” Wanita disebelahnya menjawab “Kamu tidak tahu itu siapa ? Itu adalah Rosulullaah”. Ibu ini pun menangis, rupanya orang yang amat ia rindukan selama ini ada di hadapannya. Sejak ia sampai di Masjid Nabawi sampai sholat subuh, ia terus diimami oleh Rosulullaah (semoga kita semua seberuntung ibu ini, aamiin). Sampai sekitar pukul 7 pagi, ketika para askar memanggilnya, ketika itu ia baru menyadari bahwa ia sebenarnya sedang berada di hadapan makam Rosulullaah. Rasanya baru beberapa menit yang lalu ia sholat bersama Rosulullaah, rupanya Rosulullaah sudah lebih dari 14 abad yang lalu meninggalkan ibu itu dan kita semua. Lalu siapakan ibu itu ? Ia bukanlah seorang ustadzah atau istri ustadz, ia seorang perempuan biasa, ibu itu ialah bunda Astri Ivo. Maknanya, tidak hanya berlaku bagi para ulama, asatidz, orang awampun jika ia bersungguh-sungguh rindu kepada Rosulullaah, maka Alloh rizkikan, in syaa Alloh bisa bertemu dengan Rosulullaah.

 

Rosulullaah bersabda “Hari yang terbaik untuk bersholawat kepadaku adalah pada hari Jumat. Di hari Jumat itu perbanyaklah sholawat kepadaku, karena sholawat yang kalian baca sampai pada diriku”. Para sahabat bertanya “Yaa Rosulullaah jika engkau masih hidup mungkin engkau masih mendengar sholawat kami, lalu bagaimana jika engkau sudah tiada, bagaimana caranya sholawat kami sampai pada dirimu ?” Rosulullaah menjawab “Sesungguhnya Alloh mengaharamkan bumi memakan jasad para nabi”. Maknanya “Aku tidak mati”. Diriwayatkan oleh Abu Daud “Siapa yang mengucapkan salam kepada ku (“Assalamualayka ayuhannabiyyu warohmatullaahi wabarokaatuh”) Alloh akan kembalikan ruh pada diriku hingga aku membalas salamnya”. Maka perbanyaklah salam dan sholawat. Rosulullaah seolah-olah ingin menyampaikan “Aku tidak mati dan aku membalas salam setiap ummat yang membaca salam kepadaku”.

 

Dawamkan untuk membaca QS Al-Waqiah pada setiap malam. Rosulullaah bersabda “Barangsiapa membaca QS Al-Waqiah setiap malam, maka tidaklah mungkin rizkinya akan sempit”.

 

Bertemu dengan Rosulullaah tidak hanya bisa terjadi kepada mereka yang banyak bersholawat, tetapi kepada yang tidak pernah bersholawat pun bisa. Ko bisa ? Ada kisah nyata, ada seorang pegawai, laki-laki dengan gelar Phd, di jalan Jend. Sudirman-Jakarta Pusat mengatakan bahwa seumur hidupnya tidak pernah membaca sholawat kepada Rosulullaah. Ketika ia berhaji, ketika di Raudah-Masjid Nabawi ia berdoa memohon ampun kepada Alloh karena selama hidup ia belum pernah berterima kasih kepada Rosulullaah dan meminta izin kepada Alloh untuk bertemu dengan Rosulullaah untuk meminta maaf. Ketika ia berada di Masjid Kiblatain, sekitar pukul 10.30 pagi, ketika itu langit sudah amat terang benderang, ketika laki-laki ini sedang dalam posisi tahiyyat akhir tiba-tiba ia melihat cahaya matahari amat redup seperti ada mendung pekat sekali. Dalam kondisi redup itu ia melihat ada cahaya yang lebih terang daripada cahaya matahari. Cahaya itu datang dari satu sosok manusia dan semua orang mengerubuti manusia tersebut. Laki-laki yang sedang tahiyyat itu lupa pada tahiyyatnya, ia tatap manusia yang bercahaya terang benderang itu, wangi harumnya luar biasa -inilah yang disebut “anta nuur fauqo nuur-cahaya di atas cahaya”- tampan luar biasa. Rosulullaah berjalan menghampiri laki-laki itu sambil tersenyum seperti sudah diberitahu sebelumnya oleh Alloh bahwa laki-laki ini ingin meminta maaf. Sambil terus tersenyum Rosulullaah ketika sudah dekat dengan laki-laki itu beliau memegang bahunya. Setelah itu Rosulullaah pergi melintas. Seketika itu cahaya matahari kembali terang seperti semula.

 

Ibroh bagi kita semua adalah, cintailah Rosulullaah. Hadist riwayat Imam Ahmad, Rosulullaah bersabda “Ingin sekali aku berjumpa dengan saudara-saudaraku” Para sahabat bertanya “Apakah kami bukan saudaramu yaa Rosulullaah”. Rosul menjawab “Laa, kalian semua bukan saudaraku, kalian semua sahabatku”. Sahabat bertanya lagi “Siapa orang yang engkau ingin berjumpa yaa Rosulullaah yang engkau anggap sebagai saudara?” Para sahabat merasa iri. Rosulullaah melanjutkan “Mereka belum datang, mereka adalah ummatku, mereka belum pernah melihatku namun mereka beriman kepadaku, aku anggap mereka saudara dan aku rindu kepada mereka”. Jika Rosulullaah rindu, lalu apa alasan kita untuk tidak rindu kepada beliau ? Semoga Rosulullaah ridho kepada kita semua dan berkenan masuk ke dalam surga yang paling indah bersama beliau. Sabda Rosulullaah “Barangsiapa membaca doa ini di waktu pagi sehabis subuh maka aku akan menjadi pemimpinnya lalu aku akan menuntun tangannya, aku akan menggandeng tangannya masuk ke dalam surga”. Doa itu adalah “Rodhiitu billaahi robbaa wabil Islaami diinaa wabimuhammadin nabiyyaa warosuulaa”.

 

Amalkanlah sunnah-sunnah Rosulullaah sebanyak-banyaknya, sekecil-kecilnya. Apa sunnah Rosul yang kecil ? Salah satunya bersiwak sebelum sholat. Sholat berjamaah di masjid (selain 2 masjid suci di Mekkah-Madinnah) bernilai 27 derajat, tetapi sholat dengan didahului bersiwak bernilai 70 derajat. Ma syaa Alloh. Tidak ada satupun sunnah Rosulullaah yang hina dan sepele.

 

Walloohu a’lam bishshowab

Dilanjutkan dengan santunan 18 Pesantren Yatim dan Makan malam bersama

Semoga bermanfaat

 

#MalamTahunBaruDiMasjid#

#MuhasabbahDiri#

#MenjadiLebihBaik#

#PerbanyakSholawatDanSalmKepadaRosulullaah#

Share this...
Share on Facebook
Facebook
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Print this page
Print