Kajian Rutin Ummahat MT Azzahro, Teruslah Perbaharui Niat

KAJIAN RUTIN UMMAHAT MT. AZZAHRO
Masjid Jamie Mekar Indah

Kamis, 02 Agustus 2018
Ustadz H. Imam Hambali, S.Si (Ketua Umum Forkammi)
Tema : “Teruslah Perbaharui Niat”
Oleh : Trihandajani Soekarno (trihadandajanibagus@gmail.com)

Bismillaahirrohmanirrohiim,
Pertama dan yang paling utama dalam setiap ta’lim yang kita lakukan adalah mengucapkan “Alhamdulillaah” karena ucapan itu sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat-nikmat yang Alloh limpahkan kepada kita. Nikmat yang paling utama adalah nikmat sehat, karena nikmat sehat itu adalah nikmat yang secara harga tidak mampu kita bayar. Yang kedua adalah nikmat waktu, maka isilah dengan hal yang manfaat. Akan tetapi diantara nikmat-nikmat itu yang paling besar adalah nikmat iman dan nikmat Islam. Iman dan Islam inilah yang jangan sampai ketinggalan sampai ujung hidup kita. Nanti ketika kita pindah ke alam lain kedua hal inilah yang akan kita bawa.

Mengenai iman ini , dalam QS Ali Imron 102, Alloh memanggil orang-orang yang beriman ini dengan seruan untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa kepada Alloh dan jangan mati kecuali dalam keadaan Islam. Di ayat ini diperintahkan untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa bukan takwa yang main-main, tapi ketakwaan yang sesungguhnya, serius. Ketakwaan yang sebenarnya adalah apapun yang terjadi tidak akan pernah mengubah ketakwaan kita. Ibu-ibu adalah pilar di dalam keluarga, ibulah yang menjaga akidah anak-anak dan keluarganya.

Sedikit tentang Forkammi :
Forkammi adalah ‘Forum Komunikasi Mushola dan Masjid se Cikarang Raya’. Dibentuk pada tahun 2016 setelah aksi 212. Pada saat itu berhasil memberangkatkan 1.300 jamaah, dengan 28 bis. Forkammi mempunyai banyak kegiatan salah satunya adalah bidang perempuan. Kegiatan-kegiatan ini dalam rangka menguatkan ummat Islam berbasis masjid. Masjid jangan hanya sebagai tempat ibadah mahdoh saja tetapi juga sebagi tempat mendidik, memberikan pelayanan, termasuk mengarahkan kita memilih pemimpin yang baik. Dalam rangka melaksanakan hal ini, yang wajib kita pegang adalah jangan pernah saling menyalahkan, mencaci maki dan berprasangka buruk kepada orang lain (antara satu masjid dengan masjid yang lain atau antara jamaah yang satu dengan jamaah lainnya)

“Qul inna sholaati wa nusukii wa mahyaaya wa mahmaati lillaahi robbil ‘alamiin”. Biasanya di dalam Al-Qur’an ketika suatu ayat dimulai dengan kata “Qul” maka setelah kata-kata itu adalah sesuatu yang sangat penting dan prisip. Seperti halnya di dalam QS Al-Ikhlas dan QS Al-Kafiruun. Qul inna sholati wa nusukii wa mahyaaya wa mahmaati lillaahi robbil ‘alamiin. Berarti “Katakanlah bahwa sesungguhnya sholatku, qurbanku (kata “nusuk” bisa juga berarti ‘persembahan atau seluruh ibadah ghoiru mahdoh’ yang kita lakukan), hidupku dan matiku (hanya) untuk Alloh” Inilah komitmen kita bahwa seluruh aspek kehidupan kita untuk ibadah. Sebagaimana Alloh juga terangkan di dalam QS Az-Zarriyat disebutkan bahwa “ Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah”. Jika kita memahami ini sebagai komitmet kita bersama, maka kita akan memahami bahwa alasan penciptaan kita adalah untuk beribadah kepada Alloh. Mengapa ibadah ini sangat penting bagi kita ? Karena kita hidup itu melewati beberapa fase : alam ruh, alam rahim, alam dunya, alam kubur dan alam akhirat. Alam akhirat inilah kehidupan yang sesungguhnya. Kesenangan atau kesengsaraan yang sesungguhnya adanya di alam akhirat. Dunia ini hanyalah perlintasan saja. Tetapi justru, perlintasan ini menjadi sangat penting karena disinilah kita mengumpulkan bekal amal sholeh dengan cara ibadah tadi. Maka jika kita beribadah di dunya ini artinya kita sedang mengumpulkan bekal untuk kelak kita pindah ke alam akhirat nanti. Ketika di dunia ini, bila ada bekal kita yang tertinggal ketika kita melakukan perjalanan, kita masih bisa meminta tolong keluarga kita untuk mengantarkan/mengirimkan bekal tersebut kepada kita, tetapi jika kita sudah berpindah ke alam akhirat tidak ada seorangpun yang kita bisa mintai pertolongan untuk mengirimkannya kepada kita.

Amal sholeh itu menjadi satu-satunya bekal yang akan kita bawa. Di dalam QS Al-Kahfi Alloh menyebutkan bahwa surga Firdaus adalah balasan bagi orang yang beriman dan beramal sholeh. Dan mereka akan tinggal selama-lamanya di sana dan mereka tidak akan berpindah. Banyak orang yang mempunyai banyak harta kekayaan dan kekuasaan merasa menyesal karena harta benda dan kekuasaan mereka tidak bisa membawa mereka masuk ke surganya Alloh, hal ini dikarenakan karena mereka tidak mengkorfesikannya menjadi bekal masuk surganya Alloh. “Konfersi” artinya ditukar (supaya bermanfaat). Ingatlah bahwa setiap alam mempunyai nilai/cara hidup/mata uang yang berbeda. Maka jika di dunia ini kita mempunyai harta benda dan jabatan segeralah tukarkan/konfersikan ke “mata uang akhirat” yaitu ‘amal sholeh’ melalui “money changer” yaitu berupa (antara lain) sodaqoh. Di dunia ini kita bisa menikmati nikmat Alloh berupa harta benda, jabatan, nasab dan itu semua sama sekali tidak dilarang, justru Islam menyuruh kita untuk menjadi orang kaya. Menjadi kaya dan mempunyai jabatan itu boleh yang tidak boleh itu ketika kita menjadikan itu semua sebagai tujuan. Harta dan jabatan itu hanya sebagai sarana. Itu semua penting ketika menjadikannya sebagai sarana. Kita semua ingin memiliki masjid yang bagus, ingin mensejahterakan masyarakat di wilayah kita. Dengan apa ? harta dan jabatan. Jadi jelas bahwa itu semua hanyalah sebagai tools/alat bukan tujuan. Karena jika itu semua sudah menjadi tujuan maka orang akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Dari sejarah kita mengetahui bahwa Rosulullaah adalah seorang pemimpin di Madinah, begitu para sahabat. Bahkan ketika ummat Islam dipimpin oleh Umar bin Abdul Aziz, masyarakat waktu itu dalam keadaan amat sejahtera. Tidak ditemukan orang yang berhak diberi zakat yang ada hanyalah orang-orang yang wajib berzakat. Keadaan ini hanya dimungkinkan bila kita menguasai kekayaan dan jabatan.

Yang harus kita fahami betul bahwa bekal kita adalah amal sholeh, pertanyaannya adalah bagaimana agar amal itu diterima/tidak tertolak oleh Alloh. Ternyata sebuah amal itu akan diterima oleh Alloh jika niatnya betul. Tidak bernilai suatu amal tanpa niat yang betul. Rosulullaah sudah menjelaskan, seperti yang disebutkan di dalam Hadist Arbain nomor 1, tentang niat “Innamal‘amaalu bin niat” artinya “sesungguhnya amal itu sesuai dengan niatnya”. Maka para sahabat sering beristighfar, karena khawatir ibadahnya tidak diterima. Orang yang beramal akan mendapatkan balasan/imbalan/hasil persis sesuai dengan apa yang ia niatkan. Bila niatnya hanya karena ingin menjadi terkenal maka hanya itu yang ia dapatkan tetapi jika ia beramal dengan niat lillaahita’ala maka ia pun akan mendapatkan balasan pahala dari Alloh, adapun ketenarang dan jabatan itu akan mengikuti, efek samping. Dikatakan “barangsiapa yang hijrahnya karena Alloh dan RosulNya maka ia untuk Alloh dan RosulNya tapi barangsiapa yang hijrahnya itu hanya untuk dunia atau wanita yang ingin dinikahinya, maka ia akan mandepatkan apa yang ia niatkan (tapi tidak akan mendapat balasan pahala dari Alloh).”

Dalam beramal niatnya harus ikhlas. Ikhlas itu artinya murni. Berasal dari Bahasa Arab “kholaso”. Ketika ada niat kotor yang terbawa di dalam amal yang kita lakukan, tentu Alloh tidak akan mererima, dikarenakan Alloh Maha Suci. Maka jangan campuri niat baik kita dengan kotoran-kotoran yang ikut masuk : ujub, riya. Alloh perintahkan kita untuk memurnikan niat, seperti yang disebutkan di dalam QS AL-Bayyinah ayat 5 “Padahal mereka hanya diperintahkan menyembah Alloh, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama …” dengan dasar ayat ini, jelaslah bagi kita untuk jangan mencampur adukkan niat. Jangan sekali-kali mencampurkan niat kotor dengan niat ikhlas. Berhati-hatilah. Kenapa ? karena boleh jadi niat awal kita benar, tetapi di dalam perjalanannya berubah. Ini tidak lepas dari peran makhluk lain yang menggoda kita supaya kita tidak mengikhlaskan niat kita kepada
Alloh. Makhluk itu bernama syetan. Maka Alloh menegaskan bahwa sesungguhnya syetan adalah musuh yang nyata dan jadikan dia sebagai musuh. Artinya Alloh menegasakan bahwa syetan adalah musuh yang sebenar-benarnya. “Dan jadikan ia musuh” maksudnya sikap kita kepada syetan adalah bersikaplah selayaknya menghadapi musuh : sigap, siap-siap dan jangan lengah. Syetan itu menggoda kita agar niat kita menyimpang. Dia berusaha agar kita tidak taat kepada Alloh. Leluhur syetan bernama iblis dan dia masih hidup sampai sekarang. Dia berhasil mengeluarkan leluhur kita nabi Adam dan saidati Hawa dari surga, padahal tentu saja tingkat keimanan beliau berdua jauh melampaui kita. Beliau berdua berdialog dengan Alloh, bertemu dengan para malaikat. Dengan level keimanan yang begitu tinggi saja masih tergoda oleh iblis, apalagi kita. Syetan memiliki langkah-langkah dalam menggoda manusia. Syetan itu tidak pernah menyerah dimanapun kita berada, bahkan ketika kita berada di Baitullaah pun syetan pantang menyerah dalam menggoda kita. Syetan menggoda manusia sesuai dengan levelnya, bila yang digoda adalah seorang ulama maka syetan yang menggodapun selevel itu dan seterusnya. Syetan tu berasal dari kalangan jin dan manusia. Jika ada manusia yang mengajak kita kepada maksiat dan ketidaktaatan kepada Alloh maka dia adalah syetan dari golongan manusia.

Tujuaan utama syetan adalah agar manusia mensekutukan Alloh. Menjerumuskan manusia kepada kesyirikan, meminta kepada selain kepada Alloh. Pergi ke dukun, memberikan sesajen, pesugihan dsb itu adalah contoh kesyirikan. Syirik adalah dosa yang paling top, jika gagal menjerumuskan manusia dalam kesyirikan, syetan akan menggoda manusia untuk melakukan dosa besar bagi orang-orang yang sudah biasa melakukan dosa kecil. Bila masih belum bisa, maka syetan akan menggoda untuk melakukan dosa kecil. Jika tidak bias mengajak untuk melakukan dosa besar dan dosa kecil maka syetan akan meggoda manusia untuk banyak melakukan perbuatan mubah. Hiburan adalah termasuk hal yang mubah. Sebenarnya boleh saja mencari hiburan, tetapi ketika kita harus memilih diantara hiburan dan amal Sunnah, kita akan pilih yang mana ? uangnya untuk hiburan atau sedekah ? boleh saja mengalokasikan dana untuk hiburan atau riihlah/jalan-jalan tetapi jangan sampai porsi hiburan atau jalan-jalannya lebih besar dari porsi sedekahnya.

Jika semua hal yang disebutkan di atas masih juga gagal, apa yang akan syetan lakukan ? ia akan menggoda untuk mengurangi kadar amal seseorang. Contoh kongkrit dari hal ini misal kita semula kita sudah beniat untuk bersedekah sebanyak Rp. 100 ribu tetapi tiba-tiba syetan membisikkan “jangan banyak-banyak, sedikit saja, yang penting ikhlas”. Pernyataan ini sebenarnya tidak salah, tapi hati-hati pada perangkap syetan, jika semula kita berniat untuk beramal secara maksimum lalu pada akhirnya mengurangi, nah disitulah syetan. Maka coba cek, apakah amal yang kita lakukan sudah sesuai/ sebaik/sebagus/sebanyak niat semula, bila tidak/terjadi penurunan kuantitas amal maka boleh jadi itu terjadi karena bisikan syetan. Berkaitan dengan penurunan kuantitas amal ini, para ulama dulu seringkali beristighfar kepada Alloh bukan karena telah berbuat dosa tapi ketika mereka merasa menurun kuantitas amalnya. Maka semakin banyak ilmu seseorang semakin takut ia kepada Alloh. Jika justru sebaliknya, semakin banyak amalnya semakin bangga ia kepada dirinya maka ia bukanlah orang yang takut kepada Alloh. Seharusnya kita takut/khawatir amal kita tidak diterima oleh Alloh karena amal inilah yang menjadi bekal/mata uang kita di kehidupan yang akan datang. Ini semua adalah langkah-langkah syetan. Bagaimana cara mencegahnya ? Muhasabah diri.

Hati-hatilah dengan keinginan. Boleh saja bagi kita untuk memiliki keinginan, tapi berhati-hatilah karena syetan masuk disitu. Alloh jelaskan di dalam QS Al-Hajj ayat 52 ‘apabila dia (manusia) memiliki suatu keinginan maka syetanpun memasukkan godaan-godaannya’. Hati-hatilah kepada cita-cita/keinginan anak kita. Kita sebagai orang tua harus membimbingnya. Hati-hati dengan cita-cita, misal bercita-cita jadi presiden. Bila cita-cita itu yang menjadi tujuan akhir, itu bahaya. Jadikanlah cita-cita itu sebagai tujuan antara saja, agar dengan itu kita bisa memberikan manfaat yang lebih besar kepada masyarakat. Tujuan antara, agar kita bisa beramal lebih banyak, cakupan lebih luas. Tapi jika itu yang menjadi tujuan akhir maka syetan akan masuk. Jika itu menjadi tujuan akhir maka biasanya segala cara akan dilakukan, menghalalkan segala cara. Inilah syetan. Keinginan/cita-cita letaknya di hati, maka hatinya yang diserang. Maka hati-hati dengan hati.

Kita boleh menginginkan apapun, tidak ada larangan dalam Islam bahkan kita punya harapan agar kejayaan Islam akan segera kembali. Di dalam sejarah Islam pernah mengalami peradaban gemilang, baik di Bagdad atau Andalusia (Cordova – Spanyol). Ketika itu semua aspek kehidupan baik ilmu pengetahuan dan ekonomi seluruhnya maju. Kita ingin untuk kembali seperti itu. Tapi kita tetap harus berhati-hati dengan keinginan, haruslah tetap kepada Alloh.

Bagaimana cara merawat niat ? Dalam rangka menjaga niat, di dalam ibadah mahdoh, Imam Syafi’I membolehkan kita untuk menjaharkan niat sholat. Niat itu tempatnya di dalam hati tapi demi menjaga kelurusan niat sholat, maka boleh dilafadzkan, lafadz niat, dengan tujuan supaya manteng niatnya, tidak belok-belok. Saking pentingnya urusan niat, sampai diatur seperti itu, karena jika bukan karena niat, amal kita tidak diterima oleh Alloh. Begitu juga dengan ibadah ghoiru mahdoh. Termasuk di dalam ibadah ghoiru mahdoh adalah mengurus rumah tangga sehari-hari. Seringkali kita memandang apa-apa yang rutin kita lakukan sehari-hari seperti mengurus rumah tangga sebagai sesuatu yang rutin belaka. Biasanya rutinitas itu membuat kita lupa untuk meniatkannya sebagai ibadah. Maka itulah pentingnya untuk selalu memperbaharui niat. Caranya ? setiap bangun tidur di pagi hari niatkan bahwa hari itu kita ingin menambah pahala. Melayani suami, memasak, mengurus anak-anak pastikan semua aktifitas kita itu sebagai ladang amal kita di dunia, karena setelah kita mati, akan berhenti seluruh aktifitas mengumpulkan amal sholeh kecuali ketika di dunia kita melakukan amal sholeh yang pahalanya mengalir terus. Maka cerdaslah memilih amalan yang dapat terus-menerus mengalirkan amal walaupun kita sudah meninggal. Amal-amal itu adalah shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat (bisa dengan jalan mengajari anak kita atau anak orang lain ilmu (terutama ilmu agama)). Dan anak yang sholeh.
Menjadi seorang pemimpin itu, jika ikhlas, shodaqoh jariyahnya banyak.

Jika kita adalah seorang pedagang, pastikan itu juga niatnya ibadah : pastikan jujur, jangan menutupi kesalahan, jangan berbohong, jangan mengambil hak orang lain. Jika kita berdagang tatapi ketika tiba panggilan sholat kita lewatkan maka itu namanya bukan ibadah. Pastikan untuk kita selalu memperbaharui niat. Sebab jangan sampai nanti ketika waktu kita, tenaga kita, umur kita sudah habis pada ending nya kita tidak mendapatkan apa-apa. Bagaimana caranya ? lakukan muhasabah. Muhasabah itu menghisab atau menghitung-hitung. Lakukan muhasabah dengan muroqobah. Pastikan kita terus merasa bahwa Alloh tidak pernah berhenti memantau kita, dan ini sebenarnya adalah perbuatan ikhsan. Lakukan muhasabah pada setiap bulan atau setiap malam (di saat qiamullail misalnya). Atau bisa pada setiap selesai sholat. Selesai sholat kita hisab diri kita. Selesai sholat dzuhur kita hisab diri kita dari mulai tadi subuh sampai siang itu apa saja yang sudah kita lakukan. Maka jangan terburu-buru ketika sholat. Atau kita juga bisa memuhasabah diri sebelum tidur setiap malam. Adakah hal yang buruk yang hari ini kita lakukan, jika ada segeralah beristigfar, karena inilah sesungguhnya yang dapat membuat diterimanya amal-amal kita.

Tentu saja apa-apa yang dijelaskan di atas adalah sesuatu yang mudah diucapkan tetapi sulit untuk diamalkan. Tetapi yang ingin ditegaskan di sini adalah berhati-hatilah kita dengan niat kita karena syetan itu tidak pernah berhenti menggoda kita, sampai kita mati, sakarotul maut, syetan masih terus gigih berusaha menggelincirkan kita. Maka penting untuk memastikan agar orang yang dalam kondisi sakarotul maut ada yang mendampingi untuk menuntun lafadz terakhir/mentalkin. Karena sakrotul maut adalah peristiwa kritis, segala apa yang selama ini sudah kita lakukan, perjalanan panjang hidup kita, kita pertaruhkan pada saat itu. Karena yang menentukan itu ujungnya. Kalimat “Wa laa tammutunaa wa antummuslimuun” itu titik kritisnya ada di ujung kehidupan kita. Apakah kita akan husnul khotimah ? Belum tau. Lalu apa yang menentukan kita ? tetaplah beramal, tetaplah mohon pertolongan kepada Alloh, tetap mohon untuk selalu diberikan hidayah. Kita mohon agar hidayah ini tidak diambil. Tidak berubah haluan. Jika ada kegiatan penamah tabungan amal, ikuti dan syiarkan kebaikan.

Jadi popular itu boleh tapi ingin popular itu tidak boleh. Manusia paling popular di sepanjang zaman adalah Rosulullaah SAW, apakah beliau ingin populer ? jelas tidak. Menjadi populer/terkenal itu boleh. Tetapi jika ingin dikenal itu yang tidak boleh.

Closingnya adalah :
Jangan pernah kita berhenti untuk memperbaharui niat. Pada saat akan melakukan amal, niatkan. Pada saat sedanga melakukan amal, terus hadirkan niat. Bersikaplah murokobah karena syetan akan terus menggoda kita.

Pertanyaan :
Jika kita membicarakan amal sholeh kita kepada orang lain (dan kita khawatir amal kita akan hangus karena sikap riya tersebut) apakah dengan beristighfar, amal itu bisa kembali ?
Ustadz menjawab :
Sikap riya adalah sikap yang memperlihatkan suatu amal dengan tujuan ingin mendapat pujian oleh orang lain atau ada juga yang menyebut-nyebut amal sholeh dengan tujuan untuk menyombongkan diri. Sikap ini tentu saja merusak amal, jika kita beristighfar memohon ampunan Alloh in syaa Alloh dengan jalan ini pahala-pahala yang hilang itu bisa kembali lagi. Artinya bahwa sikap riya atau bahkan sombong itu adalah perbuatan dosa, maka kita harus membersihkannya (dengan bertaubat meminta ampun). Jadi tugas kita ada 2 :
1. Menambah amal
2. Membersihkan hati

Semoga bermanfaat
MENCERDASKAN UMMAHAT – MENYELAMATKAN UMMAT

Share this...
Share on Facebook
Facebook
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Print this page
Print